Oleh : Rifaatul Mahmudah, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAIN Palangka Raya.
Kemajuan zaman serta teknologi yang berkembang sangat pesat hari ini berhasil membawa banyak pengaruh bagi para penggunanya, pengaruh yang didapat pun beragam baik yang sifatnya positif maupun negatif. Kemajuan zaman dan teknologi yang ada saat ini juga berhasil memunculkan generasi-generasi baru yang pastinya lebih unggul dan peka dalam bidang teknologi. Tekhusus pada Generasi Z. Dilansir dari Wikipedia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 menyebutkan bahwa Generasi Z adalah penduduk yang lahir kisaran tahun 1997-2012 dengan perkiraan usia 9-24 tahun.
Baca juga : Dampak Penggunaan Filter Terhadap Mental Health Seseorang
Sebagai generasi yang lahir di era digital dengan kemajuan teknologi yang ada, akses Internet tentunya telah menjadi kebutuhan bagi Generasi Z. Ditambah lagi dengan adanya kehadiran media sosial yang didalamnya membebaskan para penggunanya untuk mengakses dan meng-share apapun. Dari hal tersebut dapat dipastikan bahwa Generasi Z lebih unggul dalam konteks kecakapan penggunaan teknologi. Akan tetapi, secara kondisi mental Generasi Z merupakan generasi yang lumayan rentan terhadap gangguan kesehatan mental atau mental illness.
Sering sekali beredar dan dijumpai di media sosial banyak sekali postingan-postingan yang di unggah oleh sesorang dengan isu yang marak digaung-gaungkan yaitu mental health. Berbagai postingan yang beredar tersebut jumlahnya tidak sedikit. Bahkan postingan-postingan tersebut semakin banyak beredar hingga hari ini. Point dari postingan yang ada banyak berisikan mengenai informasi dan edukasi yang berkaitan dengan statement seberapa pentingnya untuk aware terhadap mental health dan apa itu mental illness serta mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap gejala-gejalanya.
Dapat kita lihat, secara tidak langsung bahwa hadirnya postingan yang beredar di media sosial tersebut seharusnya membawa dampak positif bagi para penggunanya terkhusus pada Generasi Z yang disebut-sebut sebagai generasi Internet. Namun, ternyata di sisi lain ada dampak negatif yang timbul. Dikarenakan oleh banyaknya informasi atau postingan yang diberikan tersebut mengakibatkan tidak adanya upaya filterisasi dari para pengguna media sosial.
Kemudian, hal ini menyebabkan dampak negatif kepada mereka. Banyak dari mereka (Generasi Z) yang tidak mengidap mental illness dan dalam kondisi mengalami suatu hari yang buruk, lalu secara tidak sengaja melihat postingan tersebut yang relate dengan apa yang dialaminya maka kemudian melakukan sebuah self-diagnose atau melabeli dirinya bahwa mereka sedang mengalami depresi. Dampak tersebut seakan-akan menjadi sebuah trend di kalangan generasi ini.
Padahal untuk melakukan diagnosis bahwa seseorang mengidap depresi sebenarnya tidak semudah itu. Apabila self-diagnose ini dilakukan dalam kurun waktu yang lama tanpa melakukan konsultasi dengan profesional maka dikhawatirkan akan berdampak pada stimulus yang telah mereka bangun sendiri.
Peka terhadap isu-isu kesehatan mental merupakan sebuah keharusan, akan tetapi melakukan self-diagnose tanpa adanya upanya untuk melakukan konsultasi dengan profesional (Psikolog dan Psikiater) adalah kesalahan yang akan berakibat fatal terhadap diri mereka sendiri. Oleh karena itu, perlu upaya yang lebih untuk memberikan edukasi kepada para generasi saat ini terkhusus Generasi Z agar mereka tidak secara serta merta menerima sebuah informasi terutama yang berkaitan mengenai mental illnes dan lain sebagainya.
Tentunya tidak mudah untuk menyadarkan dan memberikan edukasi kepada mereka bahwa melakukan self-diagnose adalah suatu kesalahan jika tidak ditangani lebih lanjut. Akan tetapi, percayalah bahwa seiring berjalannya waktu dan bertambahnya informasi mengenai pentingnya tidak melakukan self-diagnose maka mereka akan sadar dan tumbuh menjadi generasi yang lebih aware terhadap mental health dirinya sendiri, orang terdekatnya bahkan orang-orang di lingkungannya. Terlebih juga dengan tidak melakukan self-diagnosed, maka kita akan lebih menghargai orang-orang yang memang benar-benar mengidap dan berjuang dengan mental illness mereka.


Bagikan