Oleh : Muhammad Rizki Kurniawan
Maraknya pembahasan tentang insecure, quarter life crisis, burnout, mental illness pada remaja masa sekarang, sudah menjadi hal biasa yang sering kita dengar di sosial media. Munculnya berbagai konten dan cuitan perihal masalah yang mereka hadapi dengan bahasa melankolis yang membuat diri mereka merasa yang paling menderita. Hingga menjadi sebuah trend pada kalangan remaja. Hal ini membentuk sebuah karakter pada remaja sekarang yang cenderung “bermental tempa” hingga muncul istilah yang disebut dengan Generasi Strawberry.
Baca juga : Overthinking Kill Your Happiness
Istilah “Generasi Strawberry” sendiri pertama kali muncul di Taiwan yang ditujukan kepada generasi kelahiran tahun 2000-an. Dimana generasi muda saat ini memiliki ide dan kreatifitas yang tingga tetapi saat diberi sedikit tekanan mereka mudah hancur. Seperti buah strawberry cenderung terlihat cantik nan eksotis dari luar, akan tetapi ketika sedikit ditekan, maka akan mudah hancur.
Menurut Prof. Rhinald Kasali dalam bukunya dan dalam kesempatan webinar melalui streaming YouTube-nya, generasi strawberry adalah generasi yang penuh ide, namun cenderung mudah menyerah dan mudah tersakiti. Kita bisa melihat definisi ini melalui halaman media sosial. Banyak sekali ide-ide yang lahir dari anak muda, dan banyak pula tweet-tweet galau yang menggambarkan suasana hati mereka saat itu.
Media sosial di sini sebenarnya banyak berkontribusi dalam membentuk karakter generasi ini. Ini karena generasi sekarang ini menyerap informasi secepat spons menyerap air. Jumlah informasi yang mereka serap sering membuat mereka membuat diagnosis diri yang tidak akurat. Nyatanya, kata-kata seperti healing, insecure, overthinking telah menjadi bagian dari kosa kata sehari-hari mereka. Hal ini terjadi karena mereka terbiasa dengan segala macam kemudahan dan hal-hal yang serba instan. Kurangnya interaksi dengan dunia luar juga membuat standar mereka sulit dan mentalitas mereka mudah menjadi tidak realistis.
Perlunya generasi sekarang untuk mencegah diri menjadi bagian dari generasi strawberry dengan cara menanamkan mindset berkembang. Selain itu, harus mengembangkan literasi dan cross check informasi agar informasi yang diserap tidak langsung dipercaya. Poin terakhir adalah selalu ingat bahwa tidak ada yang dicapai dalam semalam, karena kesuksesan pasti membutuhkan proses yang panjang.


Bagikan