Oleh : Dodi Alfannur, Mahasiswa IAIN Palangka Raya.
Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mampu menjalankan tri darma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian). Mahasiswa yang bertindak sebagai agent of change. Berbekal kemampuan intelektual yang baik, mahasiswa diharapkan dapat memberi solusi bagi permasalahan kehidupan bermasyarakat dan menjadi kontributor kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.Untuk mencapai hal tersebut, pendidikan dalam ruang kelas tidaklah cukup. Kegiatan pembelajaran dalam ruang kelas hanya memberikan pengetahuan teoritis yang bersifat hardskills dan sangat kurang dalam mengasah kemampuan soft skills mahasiswa. Dalam hal ini diperlukan peranorganisasi mahasiswa sebagai wadah untuk mengasah soft skills mahasiswa.
Baca juga : Dampak Buruk Game Online Terhadap Anak Usia Dini
Kosasih (2016) menyatakan bahwa salah satu fungsi dari organisasi kemahasiswaan adalah sebagai sarana penunjang pendidikan dan sarana untuk mengembangkan kemampuan diri (soft skills). Soft skills yang dimaksud yakni berpikir kritis, kreatif, inovatif dan kepemimpinan. Dimana, kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah peranan organisasi mahasiswa dalam lingkup perguruan tinggi sangat vital.
Sebelum pandemi covid-19 terjadi, kondisi organisasi mahasiswa tak luput dari permasalahan. Mulai dari masalah pendanaan kegiatan, perizinan penggunaan fasilitas, konflik internal antar anggota sampai pada minimnya minat mahasiswa sendiri. Permasalahan inilah yang menghambat peran organisasi mahasiswa dalam prosesnya menjadi wadah pengembangan karakter dan soft skills mahasiswa.
Kondisi ini kemudian diperparah dengan pandemi covid-19 yang terjadi. Pembatasan aktivitas dan pemblokiran terhadap kegiatan mahasiswa yang berakibat buruk karena kurangnya fasilitas pendukung yang memadai. Pelaksaanaan kegiatan melalui daring seringkali mengalami gangguan teknis,kendala jaringan bagi peserta dan minimnya partisipasi, sehingga pelaksaanaan program kerja tersebut tidak optimal.Hal ini tentu memicu lunturnya semangat berorganisasi mahasiswa. lingkungan kampus secara total dapat menjadi ancaman terhadap keberlangsungan kehidupan berorganisasi mahasiswa.
Hal ini tentu memicu lunturnya semangat berorganisasi mahasiswa. Minimnya pertemuan tatap muka, berdiskusi langsung atau sekadar ngopi bareng membuat anggota menjadi berjarak, organisasi seperti kehilangan esensi dan fungsinya. Organisasi seharusnya dipenuhi dengan kerja lapangan,berbaur dengan banyak karakter anggota, bergulat dengan masalah, dan mengasah kemampuan problem solving. Peran tersebut saat ini menjadi sangat berkurang. Tentu saja ini menjadi masalah serius, terlebih lagi besar kemungkinan kondisi ini akan berlangsung lama.
Maka dari itu, perlu adanya perhatian serius terkait permasalahan ini. Menurut saya, dengan mengikuti pedoman new normal, perlu adanya pelonggaran terhadap kegiatan organisasi mahasiswa di kampus. Hal ini bertujuan untuk memberi ruang bagi pengoptimalan peran organisasi dalam mencetak mahasiswa yang ideal, yakni mahasiswa yang mampu menjadi agent of change, mahasiswa yang menebar kebermanfaatan, mahasiswa pengabdi masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya keseriusan dari pihak mahasiswa dan birokrasi untuk bersama-sama membahas permasalahan ini, demi tercapainya tujuan dan kebaikan bersama.


Bagikan