Rabu, 13 Mei 2026

Pentingnya Pendidikan Sebagai Pondasi Diri, Keluarga Dan Negara

Muhammad Saidun Umar Muhammad Saidun Umar

Oleh : Muhammad Saidun Umar, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Palangka Raya.

 

Baca juga : Candu Dalam Bersosial Media

Pendidikan adalah salah satu dari upaya kita untuk mengatasi kemiskinan kebodohan yang melanda negara kita. Dapat kita ketahui, bawasannya dengan seseorang merasakan pendidikan di bangku sekolah, maka ia akan mengetahui berbagai hal yang ada di dunia ini.

Untuk mendapatkan pendidikan tidak hanya di dapat dengan cara bersekolah, namun pendidikan bisa kita dapatdimanapun dan kapanpun. Sebagai makhluk yang diberikan akal oleh Tuhan seharusnya menyadari hal seperti itu. Pendidikan juga berpengaruh besar dengan masa depan seseorang, bahkan berdampak juga dengan kemajuan Negara.

Pendidikan dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu ; pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal sendiri seperti SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan perguruan tinggi. Yang mana pendidikan formal ini memiliki persyaratan khusus serta diakui pemerintah. Pendidikan non formal yaitu pendidikan tambahan selain pendidikan formal seperti dengan cara mengikuti kursus atau bimbingan belajar dan lain sebagainya.

Namun, dalam pendidikan formal ada yang namanya kurikulum pendidikan, yang mana kurikulum pendidikan ini merupakan aturan yang dijalankan untuk melakukan proses belajar mengajar. Di Indonesia sendiri sudah beberapa kali melakukan perubahan kurikulum sebanyak 10 kali perubahan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, dan 2013.

No.

Kurikulum

Tujuan dan Ciri Pembelajaran

1.

Kurikulum Rencana Pelajaran (1947)

Menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.

2.

Kurikulum Rencana Pelajaran Terurai (1952)

Terdapat silabus mata pelajaran yang lengkap dengan satu pelajaran diajarkan oleh seorang guru.

3.

Kurikulum 1964

Pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keterampilan dan jasmani.

4.

Kurikulum 1968

Perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

5.

Kurikulum 1975

Menggunakan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) untuk merencanakan metode, materi, dan tujuan pembelajaran.

6.

Kurikulum 1984

Mengusung process skill approach dengan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan berorientasi pada tujuan instruksional.

7.

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

8.

Kurikulum 2004

Setiap mata pelajaran diurai berdasarkan kompetensi apa saja yang harus dicapai oleh siswa nantinya.

9.

Kurikulum 2006

Departemen Pendidikan Nasional pada saat itu menetapkan Kerangka Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD).

10.

Kurikulum 2013

Guru dituntut untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya karena perkembangan teknologi cepat membuat siswa lebih mudah dalam mendapatkan informasi.

Perubahan kurikulum terkadang membuat tenaga pengajar dan juga peserta didik menjadi bingung. Kerap kali setiap pergantian menteri pendidikan, maka kurikulum pendidikan juga berubah. Pada saat perubahan kurikulum pendidikan, tenaga pengajar dan peserta didik diharuskan menyesuaikan kurikulum pendidikan yang baru. Sebagai contoh kurikulum pendidikan 2013 mulai diuji coba dalam proses belajar mengajar dalam kurun waktu yang cukup lama kurikulum ini belum  bisa dikatakan berhasil dan setelah pergantian menteri pendidikan muncullah kurikulum yang mungkin terdengar luar biasa yaitu kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka ini memiliki beberapa kendala, seperti tenaga pendidik yang kurang memahami bagaimana sistem kurikulum pendidikan ini. Oleh karena itu perlu diberikan seperti pelatihan atau seminar agar para tenaga pendidik ini bisa melakukan proses mengajar secara efektif untuk membentuk tunas-tunas bangsa untuk masa depan negara agar lebih maju.

Dibalik itu semua kita tidak bisa menyalahkan pemerintah untuk kurang efektifnya proses belajar mengajar di Indonesia. Namun butuh keseriusan kita dalam menempuh pendidikan. Jika kita serius dalam mengenyam pendidikan maka akan berdampak besar bagi kita, keluarga, bahkan negara. Orang yang berpendidikan akan mampu untuk menata masa depannya dengan cara bijaksana, dan dapat berfikir lebih kritis dalam hal memecahkan suatu permasalahan  yang terjadi dalam hidupnya.

 

About Us

Kalteng Cerdas adalah media online yang lahir untuk menyajikan berita terkini, inspiratif, dan mudah diakses bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Kami hadir dengan semangat literasi digital, menghadirkan konten berita, artikel, foto, dan video yang informatif sekaligus menghibur.